Kamis, 30 April 2009

Flu Singapura, Waspadai Suhu


Sumber : KlikPDPI

Dua Hari Anak Susah Makan-Minum, Segera ke RS

gettyimages

Kekhawatiran terhadap flu Singapura mulai masuk ke negeri ini. Meski belum ada warga yang terdeteksi menderita penyakit yang telah merenggut nyawa beberapa warga Singapura tersebut, pemerintah telah mengantisipasinya dengan memasang detektor, terutama di bandara internasional.

Sebetulnya, apakah flu Singapura itu? Bagaimana gejalanya, samakah dengan penyakit flu yang sering kita derita?

Menurut Prof Dr dr Soegeng Soegijanto SpAK DTM&H, flu Singapura adalah penyakit tangan, kaki, dan mulut (PTKM) atau hand, foot, and mouth disease (HFMD). Istilah tersebut muncul karena gejalanya mirip flu. Pada 2000, terjadi ledakan kasus yang mengakibatkan kematian di Singapura. Dari sanalah, muncul istilah flu Singapura. ''Penyakit ini disebabkan enterovirus. Tipenya mulai ringan hingga berat,'' kata dia.

Yang terjadi di Singapura, lanjut Soegeng, merupakan PTKM tipe berat. Di Indonesia, belum pernah ada pasien PTKM tipe berat. Hanya ada tipe ringan dan sedang. Karena itu, belum pernah dilaporkan warga Indonesia meninggal karena penyakit tersebut.

Soegeng menjelaskan, penyakit tersebut menular dan sering terjadi pada musim kemarau. Flu Singapura menyerang anak usia dua minggu hingga lima tahun. ''Jarang sekali orang dewasa menderita penyakit itu. Sebab, daya tahan tubuh orang dewasa lebih kuat daripada anak,'' ungkapnya.

Gejala flu Singapura, kata Soegeng, antara lain, suhu tubuh tinggi, pilek, dan batuk. Lalu, muncul ruam merah di tubuh. Karena gejala ruam merah tersebut, kata Soegeng, banyak orang tua menyangka anaknya menderita cacar air. Karena itu, pasien tak dibawa berobat ke dokter.

Gejala lain PTKM adalah warna putih, seperti jamur, di bibir. Ada pula bentukan seperti bisul di telapak tangan, kaki, dan rongga mulut. ''Yang di rongga mulut hampir seperti sariawan,'' jelas ahli penyakit tropis di bagian infeksi anak RSU dr Soetomo itu.

Karena gejala tersebut, biasanya anak menjadi rewel. Sebab, anak tak bisa makan dan minum dengan enak. Guru besar Unair itu menambahkan, jika anak sudah susah makan dan minum, jangan menunggu terlalu lama. ''Dua-tiga hari sakit, langsung bawa ke RS agar tak mengalami dehidrasi,'' ingatnya.

Pasien akan dipasangi sonde jika tak bisa makan dan minum. Jika kekurangan vitamin, pasien akan diberi infus. Satu hal yang harus diperhatikan orang tua, kata Soegeng, adalah suhu tubuh anak. Bila suhu tubuh lebih dari 38,5 derajat Celcius, segera bawa anak ke RS. Jika tidak, anak bisa mengalami kejang. Apalagi bila suhu tinggi tersebut disertai takikardia (denyut jantung cepat), napas cepat, dan keluar keringat dingin.

''Itu mungkin gejala PTKM tipe berat. Pasien harus segera mendapat pengobatan di RS,'' tegas Soegeng. Jika terdiagnosis PTKM tipe ringan, pasien hanya diminta istirahat. Tak ada pengobatan spesifik, hanya mengurangi keluhan yang diderita pasien. Misalnya, obat jamur, penurun panas, dan vitamin untuk meningkatkan imunitas tubuh. ''Pengobatan paling penting adalah mengusahakan agar pasien mau makan dan minum,'' ujar salah seorang peneliti di Tropical Disease Center (TDC) Unair itu.

Soegeng juga mengingatkan, penularan flu Singapura sangat cepat. Virus bisa pindah ke tubuh lain melalui ludah yang keluar saat berbicara, ingus, dan cairan bentukan bisul. ''Minum dari gelas milik penderita PTKM juga bisa memicu penularan,'' jelasnya.

0 komentar:

 
© free template by Blogspot tutorial